Situs Resmi 

Click here to edit subtitle

Situs Resmi Hans Jaladara, Agustus 2016

Setengah Hari Bersama
Bapak Seno Gumira Ajidarma














“Panji Tengkorak” merupakan salah satu komik yang mengundang perhatian Sastrawan dan Budayawan Indonesia, Bp. Seno Gumira Ajidarma. Beliau mulai memasukkan petilan-petilan komik Panji Tengkorak, Walet Merah hingga Si-Rase Terbang pada cerpen-cerpennya yang dimuat di beberapa majalah dan koran.... hingga akhirnya membuat sebuah disertasi bertemakan “3 Panji Tengkorak dalam Wacana”. Sejak saat itu, Pak Seno, demikian nama panggilan akrabnya, lebih sering bolak balik Jakarta – Bekasi hingga Bogor untuk menggali setiap informasi langsung dari Hans Jaladara. Disertasi yang mengantarnya meraih gelar Doktor pada tahun 2005 silam kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Panji Tengkorak dalam Kebudayaan dan Perbincangan” oleh Penerbit KPG, pada tahun 2011.

Belum lama ini, Hans Jaladara dan istri sowan ke kediamannya di kawasan Bintaro. Kini, selain tetap menulis di beberapa media, beliau juga disibukkan dengan kegiatan mengajar di Universitas Indonesia dan Institute Kesenian Jakarta. Walau demikian, beliau tetap setia meluangkan waktu untuk merawat koleksi-koleksi komik klasik, tak terkecuali komik Panji Tengkorak. Itu terlihat dari beberapa artwork karya Hans, mulai dari lukisan sketsa kapal hingga Panji Tengkorak yang terpajang rapi memenuhi dinding-dinding rumahnya.

Bahkan, untuk menyambut kedatangan Hans di kediamannya beberapa waktu lalu, Pak Seno telah menyiapkan 2 set print Panji Tengkorak berukuran besar sebagai kenang-kenangan. Print itu dibuat sama persis, satu untuk ditanda-tangan dan disimpan sebagai koleksi beliau, dan satu lagi untuk diberikan kepada Hans.

Pada saat yang sama, Hans juga memberikan 1 set komik Si-Rase Terbang (redraw) yang baru saja terbit bulan Juli lalu. Komik tersebut sering disebut sebagai salah satu bagian dari Trilogi Komik Panji Tengkorak... karena komik itu mengisahkan satu-satunya murid Panji Tengkorak yang bernama ‘Pandu Wilantara’ dalam berbagai konflik mulai dari percintaannya dengan Chitra, pembalasan dendam kepada pembunuh orang tuanya, hingga kemenangan yang diakhiri dengan penyakit yang tak ada obatnya.

Silaturahmi itu ditutup dengan jamuan makan dengan sup tom yam, kepala ikan, dan soto betawi yang nikmat. (reen)