Situs Resmi 

Click here to edit subtitle

Komik Si-Rase Terbang Jilid 1-3 (tamat)

Karya: Hans Jaladara (re-draw)

Penerbit: JD.Pro

Soft Cover

Ukuran: 15 x 21 cm

Jumlah hal: @ 144

Berat: 300gr (3 buku)

Beli via Tokopedia

Komik Tridas

Karya: Hans Jaladara

Penerbit: JD.Pro

Soft Cover

Ukuran: 15 x 21 cm

Jumlah hal: 120

Berat: 100 gr

Beli via Tokopedia

Situs Resmi Hans Jaladara - September 2016

Komik Panji Tengkorak sebenarnya merupakan kisah komik bersambung yang sulit dipisahkan satu dengan yang lain. Di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang saling berkaitan satu sama lain...   

Komik Panji Tengkorak dan Walet Merah boleh dibilang merupakan kisah yang bersambung secara langsung.


Sedangkan komik Si-Rase Terbang mengisahkan murid-murid keturunan dari keduanya... Pandu Wilantara merupakan satu-satunya murid keturunan Panji Tengkorak, sedangkan Si-Rase Terbang atau Suwita Jayengsari, merupakan murid keturunan Si-Walet Merah.

Anggi Hafiz Al Hakam's Reviews > Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan
Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan
by Seno Gumira Ajidarma
Anggi Hafiz Al Hakam's review
Dec 08, 2012
really liked it
Recommended for: SGA Fans n Comics Lovers
Read from September 02, 2011 to December 08, 2012 — I own a copy
Buku ini menampilkan apa-apa saja dalam komik Panji Tengkorak yang juga menjadi subyek disertasi seorang "Doktor Komik" Seno Gumira Ajidarma. Buat saya, kedepannya buku ini akan lebih bermanfaat sebagai referensi dalam penulisan karya ilmiah yang menyangkut komik.
Saat ini, dengan kelangkaan referensi tentang komik, agaknya buku SGA ini dapat dijadikan satu buku pelengkap teori dalam jagad perkomikan. Utamanya dalam konteks komik Indonesia.
Semoga dengan adanya buku ini, dapat membawa perubahan image komik Indonesia, dengan adanya akademisi yang mau membawa komik Indonesia to the next level.

Kronologi Panji Tengkorak 

Kisah ini dimulai dengan sosok Panji, seorang pemuda sederhana yang memiliki pemikiran yang sederhana pula... Ia dan kekasihnya, Murni, tinggal di sebuah pulau terpencil, bernama Pulau Ular. Di sanalah Panji menuntut ilmu silat pada alm. Nagamas, seorang jago silat sakti yang berwatak aneh... Sebagai seorang jago silat sakti, Nagamas memiliki sebuah kitab pusaka dari ilmu silatnya. Yang pada saat itu, hanya muridnya sajalah yang menyimpan atau mengetahui keberadaan kitap pusaka Nagamas.

Namun, sebagai pemuda yang sederhana, Panji tidak berpikiri macam-macam. Yang ia inginkan hanyalah menikahi Murni serta hidup bahagia di Pulau Ular....  

Akan tetapi nasib menentukan lain. Seorang Bajak Laut yang dikenal dengan gelar Pangeran Kuning datang ke pulau itu untuk merampas kitab pusaka ilmu silat peninggalan Naga Mas.

Demi menyelamatkan kitab ilmu silat peninggalan sang guru besar Nagamas, agar tak jatuh ke tangan Pangeran Kuning, Murni pun berusaha untuk menyelamatkan kitab itu. Namun sayang, harus kehilangan nyawanya. Murni terjatuh ke jurang dan tewas...


Dengan sedih dan pilu, Panji menguburkan sang kekasih. Hari berganti hari... Bayang-bayang Murni masih saja ada di benak dan mimpinya. Hingga suatu ketika, demi mengobati rasa rindunya pada sang kekasih, Panji menggali kembali kuburan Murni ... Akan tetapi, kekasihnya yang dahulu cantik telah berubah menjadi tengkorak!

Dalam keadaan shock, sedih, marah, dan frustrasi, Panji membuat sebuah topeng tengkorak dan memakainya.... agar bisa menjadi seperti Murni yang sudah menjadi tengkorak.


Sesudah kepedihannya berangsur pulih, Panji pun pergi meninggalkan Pulau Ular dengan membawa kerangka Murni... menyeberangi lautan, menuju ke daratan, ke suatu lembah terpencil dan terisolir.

Di tempat itulah, Panji menguburkan kembali kerangka Murni... serta membuat monumen makam bertiang lima.

Pada dinding batu makam itu jugalah, ia menguburkan kitab ilmu pusaka Naga Mas.

Sejak saat itu, Panji mengembara tak tentu tujuan. Karena penampilannya yang aneh, mengenakan topeng berwajah tengkorak serta berpakaian compang-camping seperti pengemis, maka ia digelari Panji si-Tengkorak atau 

PANJI TENGKORAK.

Wujudnya yang mengerikan dengan memakai topeng tengkorak, membuat Panji seringkali dianggap sebagai penjahat. Padahal, dalam banyak kesempatan, ia selalu menggunakan ilmu silatnya untuk menolong orang yang lemah. Berawal dari pertemuannya dengan Mariani, gadis desa yang parasnya sangat mirip dengan Murni, mediang istrinya... Panji menolong Mariani yang kala itu sedang diteror oleh seorang penjahat desa, Temperese!... Kisah yang mempertemukan Panji dengan Mariani dan Warti (kelak menjadi Si-Walet Merah), itu berbuntut panjang... dengan terbunuhnya Temperese di tangan Panji.


Selanjutnya, ketika tidak menggunakan topeng tengkorak, Panji juga menolong seorang jago silat wanita yang bergelar Dewi Bunga. Sehingga dua orang penjahat bernama Si-Burai dan Si-Bugel, kembali mati ditangannya.

Kematian tiga penjahat itu membuat guru besar Kebobeok, jago silat yang paling ditakuti didunia persilatan yang juga merupakan guru dari Temperese, Si-Burai, dan Si-Bugel, mencari Panji Tengkorak untuk menuntut balas atas kematian murid-muridnya.


Beruntung Panji ditolong oleh jago silat tua, bernama Muri (kelak merupakan bibi guru dari Warti atau Si-Walet Merah). Panji pun berhasil meloloskan diri hingga tiba di sebuah tempat asing. Di tempat itu ia menemukan hal yang aneh-aneh, seperti air manis yang dapat mengurangi rasa sakitnya. Bunga pemakan daging ... serta hewan-hewan raksasa bak binatang purba zaman pra sejarah, hingga berjumpa dengan Andini, gadis yang hidup bersama kakeknya yang tak berkaki, Harimau Tua Bertangan Sakti, yang pernah menjagoi dunia persilatan. Dari Kakek Harimau Tua Bertangan Sakti itulah Panji mendapatkan warisan tenaga dalam hasil latihan 100 tahun, yang juga menyembuhkan Panji. Sebelum meninggal, Kakek Harimau Bertangan Sakti menitipkan cucunya, Andini, kepada Panji.


Di tempat itu pula, Panji menciptakan ilmu silat baru yang sangat dahsyat, dimana batu ditepuk bisa hancur seperti tepung. Ilmu itu diberi nama "Alas Purba" disesuaikan dengan alam di situ yang masih seperti zaman purbakala.

Setelah keluar dari Lembah Alas Purba. Panji bertemu dengan seorang yang menyerupai dirinya... ia mengenakan pakaian compang camping dan topeng tengkorak. Panji Tengkorak palsu itu adalah seorang wanita, bernama Nesia. 

Nesia merupakan seorang wanita yang cantik, licik, dan kejam. Ia berpura-pura menolong Mariani yang diculik oleh Kebobeok, karena ingin meminjam tangan panji untuk membunuh musuh besarnya, Kebobeok.  


Di penghujung kisahnya, Panji berhadapan Kebobeok dalam sebuah pertempuran kolosal di Pulau Tiga Iblis. Pada saat itu pulalah diketahui bahwa Penjahat Besar Kebobeok itu tak lain adalah ayah kandung Panji sendiri. 

Kisah Panji Tengkorak, tak pernah luput dari perjalanan cinta. Di balik topeng tengkorak yang dipakainya, tersembunyi wajah tampan Panji, yang meluluhkan hati setiap wanita... Mulai dari Mariani, Dewi Bunga, Andini, hingga Nesia...


Mariani, gadis desa yang lugu dan polos, berparas sangat mirip dengan Murni, bagaikan pinang dibelah dua. Panji mengangap Mariani sebagai reinkarnasi Murni, dan mereka pun saling jatuh cinta.


Dewi Bunga, Pendekar Wanita yang cantik dan perkasa. Ia memiliki senjata rahasia berbentuk bunga. Namun Panji hanya menganggap sebagai kawan.

Andini, gadis dari Lembah Alas Purba...  Panji pernah berjanji kepada Kakek Tua Harimau Bertangan Sakti untuk melindungi Andini. Namun alih-alih melindungi, yang terjadi malah sebaliknya.... Dalam duel di Pulau Tiga Iblis, gadis itu malah berkorban dengan menjadi perisai untuk melindungi Panji... demi cinta! 

Nesia, yang tak lain adalah saudara Andini yang terpisah puluhan tahun lamanya. Juga mencintai Panji secara membabi buta. Bahkan demi mendapatkan cinta Panji, ia berupaya menyingkirkan semua gadis yang dianggap sebagai rivalnya. Sebelum meninggal, demi cinta,  setelah berhasil merebut cinta Panji dari Mariani, dia memaksa Panji untuk menikahinya dan bersumpah untuk tidak meninggalkan jenazahnya, ke mana pun Panji pergi.  

Demi memenuhi sumpahnya, Panji pun pergi meninggalkan semuanya... Ia mengembara sambil menyeret peti mati berisi jenasah wanita yang tidak pernah dicintainya...  Nesia, wanita yang paling dibencinya....  


PANJI TENGKORAK DALAM KISAH SI-WALET MERAH


Dalam komik Walet Merah, muncullah seorang gadis muda yang juga mencintai Panji. Namanya Nursiah. Tapi cintanya pada Panji harus kandas seperti wanita-wanita sebelumnya. Karena cintanya ditolak, dia pun menjadi dendam dan memfitnah Panji - sehingga Panji dimusuhi semua pendekar di dunia persilatan.... Panji pun dikeroyok sampai mati.


Namun Panji  tidak benar-benar  mati. Dia ditolong oleh Dewabayu


Dengan diam-diam Dewa Bayu  memakaikan obat bius, sehingga Panji tampak seperti mati sungguhan. Oleh Dewa Bayu, 'jenazah' Panji “akan” dibuang ke tengah laut - padahal sebetulnya dibawa  ke sebuah pulau. Di sanalah dia menganjurkan Panji membakar peti mati Nesia, lalu menyimpan abunya dalam sebuah kantong. Dengan demikian, Panji tidak lagi harus menyeret-nyeret peti mati Nesia, tetapi juga tidak melanggar sumpahnya padanya. 


Terlanjur sudah dianggap mati, Panji Tengkorak yang mendambakan hidup tenang dan damai berniat mengundurkan diri dan menghilang dari dunia persilatan. Namun Warti, adik Mariani yang juga merupakan murid Dewa Bayu, masih penasaran. Ia ingin mempertemukan kembali cinta kakaknya, Mariani, dengan Panji - yang sempat terputus kala itu. Maka Warti nekat minggat dari perguruannya, pergi mengembara mencari Panji Tengkorak.


Karena selalu memakai baju merah, dan gerakannya yang gesit seperi seekor burung walet, maka ia digelari 


"SI-WALET MERAH".


Walaupun hatinya baik, tetapi karena sifatnya yang galak, pemarah dan sok pahlawan, membuat Warti kerap mendapat masalah...  bahkan beberapa kali ia hampir mati terbunuh. Untunglah ada Panji Tengkorak dan Dewa Bayu yang diam-diam menjaga Warti... hingga suatu ketika Warti pun berhasil berjumpa dengan Panji... 


Akan tetapi, setelah bertemu dengan Panji Tengkorak, malah Warti sendiri yang jatuh cinta pada Panji Tengkorak ...


PANJI TENGKORAK DALAM KISAH SI-RASE TERBANG


Di kemudian hari, setelah rambutnya sudah memutih, Panji mengangkat seorang murid, yang dikenal dengan nama PANDU WILANTARA.

Dalam usahanya merebut kembali pedang kayu cendana, pedang pusaka warisan keluarga, milik ayahnya yang dirampas si-Mayat Hidup, Pandu Wilantara harus mengalami banyak rintangan dan penderitaan. Ia disiksa oleh Singa Hitam, musuh bebuyutan gurunya, sehingga syaraf-syaraf matanya rusak dan hampir buta.


Ada 2 wanita yang sangat bersimpati dan prihatin dengan keadaan Pandu, dan berusaha mencari obat untuk menyembuhkan penyakit sang penerus Panji Tengkorak itu. Mereka adalah Trijata dan Suwita Jayeng Sari, yang terakhir adalah murid Si-Walet Merah atau yang lebih dikenal sebagai SI-RASE TERBANG.


CUCU MURID KETURUNAN SI-WALET MERAH DAN PANJI TENGKORAK

Pedang Surya dan Pedang Chandra adalah sepasang pedang mustika yang harus dimainkan oleh pasangan muda-mudi yang sedang berkasih-kasihan. Bila dimainkan secara tepat, maka ilmu pedang itu akan menjadi sangat dasyat dan tiada tandingannya di dunia persilatan.


Tetapi, bila salah satu dari pedang itu hanya dimainkan oleh seorang saja, maka ilmu pedang itu tidak akan berarti apa-apa...Namun Si-Walet Merah telah mengubahnya. Ia memainkan sepasang pedang itu seorang diri saja di tangan kiri dan kanan.


Adalah sepasang muda-mudi seperguruan, yaitu DIAN dan BOMA, yang sedang berkelana mencari Si-Rase Terbang (murid pewaris tunggal Si-Walet Merah), untuk meminta petunjuk ilmu duet pedang surya chandra. 

Sebenarnya keduanya saling mencintai. Tetapi karena ditipu dan dijebak oleh 'manusia serigala berbulu domba', mereka jadi terpisah. 


Dian diperkosa dan Boma dikejar-kejar seperti binatang buruan, ditangkap, disiksa, sampai hampir mati...

Untunglah Boma ditolong oleh Pandu Wilantara. Mereka kemudian angkat saudara. Dari Pandulah, Boma mendapat petunjuk-petunjuk ilmu silat Panji Tengkorak....

Dengan bekal ilmunya yang tinggi, Boma malang melintang di dunia persilatan untuk mencari Dian, kakak seperguruan yang sangat dicintainya....


update: 17.9.2016