Situs Resmi 

Click here to edit subtitle

“Hal-hal tertentu yang tahun lalu dianggap porno sekarang mungkin tidak lagi.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 29 Desember 2016

“Tjerita ini disusun untuk mengarahkan pengaruh-pengaruh negatip dari djiwa muda terhadap pengaruh kebudajaan asing…Tjerita bergambar ini menjadi tjambuk. Jang berarti kita tidak perlu mengimport komik-komik dari luar jang kadang-kadang meratjuni djiwa bangsa kita atau setidak-tidaknya tidak tjotjok dengan kepribadian kita.”


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian. 

Akhir 1960-an hingga awal 1980-an merupakan masa-masa komik Indonesia berjaya di negeri ini. Penerbit komik, seperti Melodie, Sastra Kumala, dan Eres, tumbuh subur, demikian pula isi kantong komikus yang laris, seperti Ganes T.H., Hans Jaladara, Jan Mintaraga, Hasmi, Mansyur Daman, Zaldy, Teguh Santosa, dan Tatang Suhenra.

Hans Rianto Sukandi, yang lebih dikenal sebagai Hans Jaladara, mulai menggambar komik sejak 1966. Kala itu umurnya baru 19 tahun. Komik pertama Hans, Hanja Kemarin, diterbitkan oleh PT Dasa Warga, Jakarta, pada 17 April 1966. Saat itu memang masanya komik cinta-cintaan.

Komik-komik Hans, kini 69 tahun, laris manis di pasar. Apalagi setelah dia menerbitkan komik silat serial Panji Tengkorak pada 1968. Serial Panji Tengkorak ini sempat difilmkan pada 1971 dengan bintang utama Deddy Sutomo dan Lenny Marlina. Pesanan komik dari penerbit terus mengalir. Isi kantong Hans tentu saja makin gemuk. “Berkat komik, saya bisa beli rumah, mobil, dan truk Datsun,” kata Hans beberapa pekan lalu.

Hans dan komikus-komikus Indonesia sempat belasan tahun mencicipi masa-masa indah itu sebelum akhirnya manga merontokkan komik Indonesia. Sekarang generasi baru komikus Indonesia, seperti Beng Rahadian, Is Yuniarto, dan Chris Lie, berjuang kembali untuk menjadi tuan di negeri sendiri.

Sekarang, menurut Beng Rahadian, komikus sekaligus dosen di Institut Kesenian Jakarta, kesempatan merebut pasar bagi komik Indonesia sangat besar lantaran ada kecenderungan penurunan penetrasi komik luar. “Walaupun porsinya masih banyak di rak-rak toko buku,” kata Beng. Apalagi komik lokal punya keunggulan. “Karena kebanyakan komik lokal ini berbicara persoalan sehari-hari.”

BACA LENGKAPNYA...